Kanker Karena Transplantasi

Kanker Karena Transplantasi

Kanker Karena Transplantasi

Transplantasi adalah usaha memindahkan sebagian atau seluruh jaringan ataupun organ dari suatu bagian tubuh ke bagian tubuh lain pada individu yang sama ataupun individu yang berbeda dengan tujuan untuk mengganti jaringan (organ) yang tidak berfungsi dengan baik. Salah satu contoh transplantasi organ yang sering dilakukan adalah transplantasi kulit yang rusak akibat luka bakar.  Kata transplantasi berasal dari bahasa Inggris yaitu kata transplantation yang berarti mengambil dan menempelkan pada tempat lain atau memindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Menurut UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, transplantasi adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ dan atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.

 

Sebelum melakukan transplantasi organ, calon penerima dan pendonor akan diperiksa terhadap kemungkinan penyakit infeksi atau menular, kanker, HIV, dan lain sebagainya. Jika ditemukan beberapa kondisi seperti adanya infeksi yang parah, HIV, atau adanya sel kanker yang aktif, dokter akan membatalkan pengambilan organ untuk ditransplantasikan ke orang lain. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika nanti timbul masalah, mungkin itu karena efek tidak menyenangkan obat imunosupresif. Mengapa kanker menjadi salah satu indikator kelayakan organ di transplantasikan? Apakah dengan transplantasi organ yang terdapat sel kanker dapat memicu berkembangnya sel kanker pula di penerima donor?

 

Kanker adalah satu dari lima penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian terbesar di Indonesia (BPJS, 2014-2015). Kanker perlu diperhatikan secara lebih mendalam karena total kasus kanker di Indonesia sepanjang tahun 2014-2015 lebih dari 500.000 kasus. Kanker merupakan penyakit yang disebabkan oleh proses proliferasi yang abnormal dari sel-sel jaringan tubuh yang dapat berubah menjadi sel kanker. Sel kanker mampu menyerang jaringan lainnya dengan tumbuh di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan bermigrasi sel ke tempat lain (metastasis). Pada umumnya, sebelum kanker merusak jaringan lainnya, penderita tidak merasakan adanya keluhan atau gejala. Namun bila sudah ada keluhan, biasanya penyakitnya sudah lanjut.

 

Mari kita coba telusuri lebih dalam mengenai alasan penderita kanker tidak dihimbau untuk mentransplantasi organnya serta kita cari tahu lebih dalam hubungan kanker dan transplantasi organ.

 

Pada dasarnya kanker bukan penyakit menular karena kanker hanya muncul melalui proses proliferasi yang tidak normal yang mengakibatkan pertumbuhan yang lebih cepat dibanding biasanya. Proliferasi merupakan fase sel dimana sel mengalami pengulangan siklus sel tanpa adanya hambatan.

 

Banyak sekali DNA yang rusak tiap harinya. Kerusakan tersebut dapat terjadi karena memang tugasnya dalam proses metabolisme maupun karena terinfeksi zat karsinogen. Kemudian, gen DNA repair akan memperbaiki kerusakan pada DNA yang rusak tersebut. Namun, bila proses perbaikan tersebut gagal, maka akan terjadi mekanisme apoptosis. Selanjutnya, bila proses reparasi dan apoptosis gagal, maka antioncogenes berperan dengan menghentikan siklus pembelahan sel sehingga tidak terjadi proses karsinogenesis.

 

Sedangkan untuk kondisi tidak normal, sel secara bertahap memiliki sifat-sifat sebagai sel-sel kanker. Proses perubahan sel normal menjadi sel kanker ini disebut karsinogenesis. Karsinogenesis sendiri terdiri dari tiga tahapan, yaitu tahapan inisiasi, tahapan promosi, dan tahapan progresi. Pada tahapKanker Karena Transplantasi inisiasi, terjadi perubahan genetik di dalam sel somatik normal melalui proses mutasi yang menyebabkan sel tumbuh lebih cepat dari sel sekitarnya yang mengaktivasi gen protooncogenes dengan menghambat gen penahan. Senyawa yang mempengaruhi tahap ini adalah inisiator. Pada tahap promosi, sel yang telah terinisiasi akan membentuk klon melalui pembelahan dan melakukkan interaksi antar sel. Proses ini membutuhkan waktu beberapa tahun dan dipengaruhi oleh senyawa promotor atau epigenetik karsinogen. Pada tahap progresi, terjadi instabilitas genetik yang menyebabkan adanya perubahan mutagenik dan epigenetik yang menghasilkan klon baru sel – sel tumor yang berproliferasi, memiliki sifat yang invasif menyerang jaringan disekitarnya, dan memiliki potensi meningkatnya metastasis atau penyebaran ke tempat lain. Protooncogenes pada tahapan ini dapat menginduksi timbulnya kanker dan juga terdapat gen modulator yang dapat mempengaruhi eksperimen karakteristik gen yang mempengaruhi penyebaran kanker. Jika tidak ada yang menghambat, sel kanker akan tumbuh semakin banyak dan lama-kelamaan akan mempengaruhi fungsi tubuh dan menimbulkan gejala klinis.

 

Pada umumnya, kanker timbul karena paparan terhadap suatu karsinogen secara berkali-kali dan aditif pada dosis tertentu. Kebanyakan kanker tidak disebabkan oleh infeksi. Pada umumnya, yang menyebabkan berkembangnya sel kanker adalah suatu zat. Zat tersebut adalah zat karsinogen. Karsinogen inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan DNA dalam tubuh seseorang yang nantinya memicu berkembangnya sel kanker. Selain itu, adanya rangsangan oleh zat aditif pada dosis tertentu juga dapat memicu tumbuhnya sel kanker. Namun, tahap progresif sel kanker dapat selalu berjalan tanpa bergantung pada zat karsinogen. Sehingga sebenarnya,walaupun tidak ada zat karsinogen,sel kanker dapat tetap tumbuh. Apalagi jika sel kanker tersebut dipicu oleh karsinogen, tentu hasilnya akan lebih agresif.

 

Kanker karena transplantasi bisa disebabkan oleh satu karsinogen saja, misalnya asap rokok yang memicu tumbuhnya sel kanker di paru-paru, ataupun dua karsinogen yang berlainan, misalnya kanker orofarings yang disebabkan oleh asap rokok dan juga alkohol.

 

Misalnya juga pada kasus kanker hati (hepar) atau dalam dunia medis dikenal dengan nama Hepatocellular Carcinoma (HCC). Kanker hepar dapat disebabkan oleh banyak faktor, misalnya karsinogenik aflatoksin  yang disebabkan oleh jamur Aspergillus flavus, sirosis sel hepar, karsinogen benzopyrene, atau bahkan hanya karena rangsangan virus hepatitis B. Aflatoksin merupakan zat yang dapat meningkatkan mutasi gen yang menekan pertumbuhan sel kanker. Sirosis menyebabkan mengerasnya hati karena terbentuknya jaringan parut yang mengakibatkan fungsi hati yang menurun. Benzopyrene yang merupakan hasil pembakaran tidak sempurnya yang tergolong karsinogen kimia. Sedangkan virus hepatitis B menyebabkan matinya jaringan-jaringan hati dan juga merangsang pembelahan sel dan membuatnya rentan terhadap zat-zat yang tergolong karsinogen.

 

Masih banyak lagi jenis jenis karsinogen yang memicu tumbuhnya sel kanker karena transplantasi. Misalnya, radium, phosphorus, mesothorium, dan thorotrast yang memicu timbulnya leukimia, osteosarkoma, kanker sinus, dan angiosarkoma hati. Contoh lainnya adalah virus papiloma(HPV), virus Herpes simplex dan virus cytomegalo adalah penyebab dari kanker serviks dan kanker penis yang ditularkan melalui hubungan seksual yang biasanya terjadi pada orang yang menikah di usia muda atau yang memiliki banyak pasangan. Chloromethyl methylether yang merupakan karsinogen kimia digunakan secara luas pada dunia industri sebagai perantara sintesa organik yang dapat menyebabkan kanker paru-paru.

 

Walaupun ketika melakukan transplantasi ada kemungkinan faktor-faktor yang bersifat karsinogen tersebut masuk ke dalam tubuh dan dapat memicu pertumbuhan sel kanker karena transplantasi, namun hal ini hanya karena kelengahan. Namun secara umum, transplantasi organ sendiri tidak menyebabkan berkembangnya sel kanker. Dampak dari transplantasi yang dalam waktu dekat mungkin hanyalah untuk menyesuaikan karena penerima donor belum terbiasa dengan organ yang telah ditransplantasikan.

 

Jika ditinjau lebih luas, sebenarnya ada beberapa efek samping lainnya setelah orang menerima donor dalam transplantasi, misalnya menjadi rusaknya ginjal karena obat yang diteguk pada masa pasca pemulihan terlalu berlebih,infeksi pada bagian tertentu,ataupun hanya dampak lainnya yang tidak terlalu beresiko seperti mual, pusing, lemas, dan berkeringat karena proses penyesuaian organ baru oleh tubuh.

 

 

Namun, jika kita selidik kembali, sel-sel kanker karena transplantasi tersebut terangsang tumbuh oleh karsinogen berupa virus dikarenakan kinerja obat imunosupresan yang dengan membuat sistem imun turun dan berakibat virus dapat masuk ke dalam tubuh. Sehingga, sel-sel kanker disini tumbuh karena efek samping dari obat, bukan karena transplantasi itu sendiri. Namun sayangnya, hingga sekarang belum ditemukan atau masih jarang adanya alternatif obat lain pengganti imunosupresan yang tidak memicu masuknya virus sebagai karsinogen kanker.

 

Kita lihat kembali tujuan transplantasi organ, yaitu untuk pengobatan yang dapat dilakukan untuk penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Satu hal lagi, dimana biasanya transplantasi organ dilakukan sebagai langkah terakhir dalam proses penyembuhan jika organ sudah tidak bisa digunakan lagi dan dirasa perlu untuk diganti. Sehingga jika meninjau secara luas mengenai transplantasi organ, dengan memikirkan tujuan transplantasi dan resiko-resiko lain yang berkaitan dan mungkin muncul, menurut saya masih wajar dan boleh saja dilakukan, mengingat transplantasi merupakan langkah terakhir jika benar-benar harus diganti. Mungkin dirasa perlu jika kedepannya mencari zat yang memudahkan organ tertambat namun  tetap menjadi pelindung dan memberikan daya tahan pada tubuh yang bersifat imun dan antibodi terhadap serangan dari luar tubuh tetapi terbuka bagi tempat kerja jangkauan obat.

 

Di sisi  lain, penyebab kanker yang terbesar adalah pola hidup yang tidak sehat. Hampir 50% penderita kanker disebabkan oleh pola makan dan segala yang dikonsumsi, baik berupa makanan maupun minuman. Misalnya, terlalu banyak lemak dan kurangya serat dalam makanan juga dapat berpotensi menimbulkan kanker di pencernaan, payudara, endometrium, dan ovarium. Contoh lainnya adalah alkohol, tembakau, dan asbes yang dapat memicu timbulnya kanker di paru-paru, orofarings, dan esofagus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebenarnya transplantasi organ tidak menyebabkan kanker, namun imunosupresan sebagai penghambat daya tahan tubuhlah yang menjadikan virus dapat memicu sel kanker karena transplantasi.

 

 

Kanker Karena Transplantasi

This entry was posted in Obat Kanker Tradisional. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*